gadget

Kamis, 17 Februari 2011

Penyebaran Berita Proklamasi

Cara-cara penyebaran berita proklamasi :

§  Setelah Ir. Soekarno membacakan teks proklamasi, pada hari itu juga teks proklamasi telah sampai di tangan Kepala Bagian Radio dari Kantor Domei, Waidan B. Palenewen. Ia menerima teks proklamasi dari seorang wartawan Domei yang bernama Syahruddin. Kemudian ia memerintahkan F. Wuz (seorang markonis), supaya berita proklamasi disiarkan tiga kali berturut-turut. Baru dua kali F. Wuz melaksanakan tugasnya, masuklah orang Jepang ke ruangan radio sambil marah-marah, sebab mengetahui berita proklamasi telah tersiar ke luar melalui udara. Akibat dari penyiaran tersebut, pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita dan menyatakan sebagai kekeliruan. Pada tanggal 20 Agustus 1945 pemancar tersebut disegel oleh Jepang dan para pegawainya dilarang masuk. Sekalipun pemancar pada kantor Domei disegel, para pemuda bersama Jusuf Ronodipuro (seorang  pembaca berita di Radio Domei) ternyata membuat pemancar baru dengan bantuan teknisi radio, di antaranya Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan  Suhandar. Mereka mendirikan pemancar baru di Menteng 31 (disahkan menjadi RRI pada tanggal 18 Agustus), dengan kode panggilan DJK 1. Dari sinilah selanjutnya berita proklamasi kemerdekaan disiarkan.
§  Harian Suara Asia di Surabaya merupakan koran pertama yang memuat berita proklamasi. Beberapa tokoh pemuda yang berjuang melalui media pers antara lain B.M. Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang.
§  Proklamasi kemerdekaan juga disebarluaskan kepada rakyat Indonesia melalui pemasangan plakat, poster, maupun coretan pada dinding tembok dan gerbong kereta api, misalnya dengan slogan ”Respect our Constitution, August 17!” (Hormatilah Konstitusi kami tanggal 17 Agustus!)
§  Di samping melalui media massa, berita proklamasi juga disebarkan secara langsung oleh para utusan daerah yang menghadiri sidang PPKI. Berikut ini para utusan PPKI yang ikut menyebarkan berita proklamasi.
  1. Teuku Mohammad Hassan dari Aceh.
  2. Sam Ratulangi dari Sulawesi.
  3. Ktut Pudja dari Sunda Kecil (Bali).
  4. A. A. Hamidan dari Kalimantan.

Crita Pandhawa


Pandhawa Dadu

Prabu Duryodana raja Ngastina duduk di atas singhasana dihadap oleh Patih Sakuni dan warga Korawa. Raja memperbincangkan rencana permainan dadu dengan para Pandhawa. Patih Sakuni memberi petunjuk rencana permainan dadu kepada raja dan warga Korawa. Kemudian raja meningalkan perundingan, masuk istana. Raja disambut oleh permaisuri dan putri raja, Lesmanawati. Kemudian raja bersamadi.
Patih Sakuni dan para Korawa menanti raja, mereka akan ke Balai Kencana, menyambut kedatangan para Pandhawa. Setelah raja keluar dari istana, mereka berangkat naik kereta.
Prabu Jayalengkara raja Parang Gumiwang duduk di atas singhasana, dihadap oleh Patih Jayahandaya dan Ditya Jayapracandha. Raja berkata, demi kebahagiaan negara dan rakyat, Prabu Darmakusuma yang menjadi sarana untuk tinggal di kerajaan. Maka raja mengirim surat kepada Prabu Darmakusuma raja Ngamarta. Ditya Jayapracandha ditugaskan untuk menyampaikan surat permintaan itu.
Ditya Jayapracandha dan perajuritnya bertemu dengan perajurit Ngastina. Terjadilah perang, perajurit Ngastina menyimpang jalan.
Arjuna menghadap Bagawan Abyasa di pertapaan Wukir Retawu. Arjuna memberi tahu, bahwa Pandhawa akan mengadakan pertemuan dengan Korawa yang dipimpin oleh Duryodana. Mereka akan bermain dadu. Bagawam Abyasa memberi banyak nasihat, Arjuna disuruh kembali ke Ngamarta. Arjuna bersama panakawan segera berangkat.
Perjalanan Arjuna dihadang oleh perajurit raksasa dari Parang Gumiwang. Terjadilah perkelahian, para raksasa musnah oleh panah Arjuna.
Bima menghadap Anoman di Kendhalisada, memberi trahu rencana permainan dadu bersama warga Korawa. Anoman meberi nasihat makna pertemuan para Pandhawa dan Korawa. Itu awal akan terjadinya perang.
Kresna raja Dwarawati dihadap oleh para isteri, Samba, Partajumena dan Setyaki. Raja memberi tahu, bahwa atas kehendak dewa akan terjadi awal mula timbul perang antara Pandhawa dengan Korawa. Raja Kresna ingin menyaksikannya, para putra diminta menjaga kerajaan.
Yudhisthira duduk bersama Kunthi, Drupadi, Nakula dan Sadewa. Mereka menanti kedatangan Duryodana dan para Korawa.
Duryodana datang, Yudhisthira menyambutnya. Patih Sakuni mengatur arena permaianan, siap dengan perlengkapannya.
Setelah dijamu mereka bersiap-siap main dadu, Yudhisthira selalu kalah, harta kekayaan habis untuk taruhan. Yudhisthira sesaudara sedih, para Korawa bersukaria mengambil seisi kerajaan Ngamarta.
Patih Sakuni hendak memboyong Kunthi, lalu menarik kain kemben. Dursasana menagkap Drupadi. Kunthi dan Drupadi berteriak keras. kunthi mengutuk dan berjanji, ia tidak akan berkain tutup buah dada, sebelum mendapat kulit Sakuni. Drupadi tidak akan bersanggul sebelum berjamas darah Dursasana.
Bima dan Arjuna datang bersama. Mereka heran mendengar tangis, setelah mengerti persoalannya mereka mengamuk. Para Korawa bercerai berai lari tunggang-langgang. Yudhisthira berdiam diri, datanglah angin kencang, membawa para Korawa jatuh ke kerajaan Ngastina. Warga Pandhawa menjadi tenang.
Kresna datang dan melihat situasi sesudah terjadi keributan. Kunthi memberi penjelasan segala sesuatu yang terjadi. Kresna memberi tahu, bahwa itu kehendak dewa Yang Maha Tinggi.
Bagawan Abyasa berbicara dengan Dhestharastra dan Widura tentang berita pertikaian Pandhawa dangan Korawa. Mereka setuju berkunjung ke Ngamarta.
Prabu Jayalengkara dihadap oleh Patih Jayahandaka dan Ditya Jayapracandha. Tengah mereka berbincang-bincang datanglah Togog memberi tahu, bahwa utusan musnah oleh Arjuna.
Prabu Jayalengkara marah, sang patih diminta mempersiapkan perajurit. Setelah siap, para perajurit raksasa berangkat ke Ngamarta.
Yudhisthira sedang berbicara dengan Kresna, Bima dan Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kresna memberi nasihat agar para Pandhawa mau menyerah kepada kehendak Dewa Yang Maha Tinggi. Tengah mereka berbicara, datanglah Bagawan Abyasa bersama Dhestharastra dan Widura Mereka menghoramat bersama. Setelah tahu, bahwa di Ngamarta telah terjadi keributan, Bagawan Abyasa memberi nasihat agar para Pandhawa mau menerima nasib jeleknya. Kelak dewa akan melindunginya.
Perajurit raksasa yang dipimpin oleh Prabu Jayalengkara datang menyerang kerajaan Ngamarta. Bagawan Abyasa menugaskan Widura, Bima dan Arjuna untuk mengusir musuh.
Jayalengkara mati oleh Widura, Patih Jayahandaka mati oleh Arjuna, dan perajurit raksasa musnah oleh Bima.
Para Pandhawa mengadakan pesta bersama Abyasa dan para tamu yang hadir di Ngamarta.
R.S. Subalidinata
Mangkunagara VII Jilid XXVIII, 1932: 15-20

Kamis, 10 Februari 2011

FAMOUS goes to BALI :D



BALIBALI :D famous ke bali tanggal 21 januari 2011 berangkat dari skola kira-kira jam 6 pagi
diatas itu foto-fotonya FAMOUS pas makan siang di Banyuwangi